01 September 2016

PETRUS. Yay or nay?

Seluruh  warga negara Indonesia yg hidup ditahun 1980-an pasti sudah familiar dengan istilah “PETRUS” a.k.a. penembak misterius. Bahkan kaum muda sekarang pun juga pernah mendengarnya. Ya, ini merupakan salah satu tragedi yang menggemparkan dan membekas dipikiran beberapa kaum masyarakat Indonesia.

Sebenarnya, PETRUS merupakan suatu operasi rahasia yang dibentuk pada masa pemerintahan Pak Soeharto untuk menanggulangi tingkat kejahatan yang begitu tinggi pada saat itu. Operasi ini secara umum adalah operasi penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan dan ketentraman masyarakat khususnya di Jakarta dan Jawa Tengah. Pelakunya tak jelas dan tak pernah tertangkap, karena itu muncul istilah "petrus" (penembak misterius)
Singkat cerita, Petrus dibentuk karena Soeharto meminta polisi dan ABRI mengambil langkah pemberantasan yang efektif menekan angka kriminalitas. Permintaan Soeharto  ini disambut oleh Pangopkamtib Laksamana Soedomo dalam rapat koordinasi dengan Pangdam Ja-ya, Kapolri,Kapolda Metro Jaya dan Wagub DKI Jakartadi Markas Kodam Metro Ja¬ya tanggal 19 Januari 1983. Dalam rapat itu diputuskan untuk melakukan operasi rahasia ini di Jakarta, langkah ini kemudian diikuti oleh kepolisian dan ABRI di ma¬sing-masing kota dan provinsi lainnya.

Dalam prakteknya, ratusan masyarakat dibunuh  setiap tahunnya. Angka kematian yang besar tersebut pun membuat warga ngeri. Selain itu, mayat korban yg dibunuh petrus dibuang dengan cara yang biadab. Tak aneh lagi jika banyak mayat ditemukan dalam karung, digeletakkan di sungai, taman, laut, dll. Ada juga mayat yang dibunuh dengan cara disiksa.

Tragedi tersebut perlahan-lahan menjadi salah satu kenangan sekaligus aib bangsa Indonesia ini. Ada yang pro dan kontra sejak dulu hingga sekarang. Memang. Tujuan utama Soeharto adalah membasmi kriminalitas dengan cara kejam agar warga “takut” sehingga negara menjadi tertib. Tetapi dibalik maksud yang menguntungkan negara tersebut, ada banyak nilai kemanusiaan dan keagamaan yang dilanggar atau disebut juga dengan kata “pelanggaran HAM”

Tetapi jika dilihat dari berbagai sudut pandang, petrus membasmi penjahat yang melanggar HAM orang lain dengan cara yang tragis. Tetapi sisi baiknya, tidak akan ada lagi orang yg dirugikan haknya oleh sang penjahat. Sudut pandang lainnya adalah, petrus sebagai organisasi yang dibentuk oleh negara tersebut menggunakan cara yang tak lazim dan dicap buruk oleh negara lain. Hmm…HAM memang sangat subjektif. Dengan cara apakah anda melihat kasus ini? Pro atau kontra?


EmoticonEmoticon